Marak Penipuan Perbankan, Tiga Akademisi di Indonesia Ciptakan Inovasi AI Pendeteksi Link Phising Berakurasi 97 Persen

Tiga Akademisi di Indonesia Ciptakan Inovasi AI Pendeteksi Link Phising
Sumber :

VIVA Bali – Maraknya kasus kejahatan siber yang memanfaatkan modus tautan jebakan atau phishing untuk meretas data pribadi kian mengkhawatirkan. Menjawab tantangan tersebut, kolaborasi tiga akademisi asal Indonesia sukses menetaskan inovasi berupa sistem kecerdasan buatan (AI) yang mampu mendeteksi link URL phishing dengan tingkat keakuratan mencapai 97,56 persen.

img_title Cara Mengatasi HP Lag Saat Bermain Game dengan Langkah Praktis

Penemuan strategis di bidang keamanan siber ini dipaparkan dalam riset bertajuk “URL-Based Phishing Detection Using a BERT-LSTM Model”. Tiga tokoh di balik riset ini adalah Hilman Singgih Wicaksana (Universitas Karya Husada), Dr. Usman Ependi (Universitas Bina Darma), serta Dr. Ari Muzakir (Universitas Bina Darma).

Hilman Singgih Wicaksana, selaku Peneliti Pertama dan Corresponding Author, menyebutkan bahwa penelitian ini bermula dari keresahan atas tingginya angka pencurian informasi kredensial, mulai dari kata sandi hingga data perbankan digital.

img_title Urutan Menonton Anime Naruto Tanpa Bingung Beserta Daftar Filler

"Pelaku siber kini menggunakan teknik yang semakin kompleks untuk menyamarkan URL agar terlihat seperti website resmi dan terpercaya, sehingga metode deteksi tradisional berbasis rule-based mulai mengalami keterbatasan dalam mengenali pola phishing modern," ujar Hilman menjabarkan latar belakang risetnya pada Bali.viva.co.id

Sebagai solusi atas kelemahan sistem lama, tim ilmuwan ini merancang pendekatan deep learning yang mengawinkan teknologi Bidirectional Encoder Representations from Transformers (BERT) dengan Long Short-Term Memory (LSTM). Kombinasi ini membuat AI tidak sekedar membaca karakter link, tetapi memahami konteks URL secara utuh.

img_title Capaian Empat OPD Rendah, Walikota Mataram Masih Optimistis Capai Target

Catatan eksperimen menunjukkan hasil yang impresif. Model yang disempurnakan lewat metode Bayesian Optimization ini terbukti lebih unggul dari sistem konvensional, dengan menorehkan akurasi 97,56 persen serta nilai ROC-AUC di angka 99,62 persen.

Dalam tahap implementasi ke depannya, tim berencana menyulap teknologi ini menjadi sebuah website AI mandiri berbasis Application Programming Interface (API). Cara kerjanya praktis, masyarakat cukup menempelkan (paste) URL yang dicurigai, dan sistem akan langsung melakukan analisis real-time untuk memastikan keamanan link tersebut.

Melihat besarnya potensi kerugian finansial, tim peneliti menggarisbawahi bahwa industri keuangan adalah pihak yang paling membutuhkan inovasi ini.

"Sektor yang paling mendesak untuk mengadopsi teknologi ini adalah sektor perbankan dan layanan keuangan digital karena phishing sering digunakan untuk mencuri data pribadi nasabah, termasuk informasi login mobile banking, PIN, OTP, dan data transaksi keuangan," papar Hilman.

Halaman Selanjutnya
img_title