Ribuan Blanko Menumpuk, Petani di Wongsorejo Keluhkan Keterlambatan Barcode Solar

Warga mengajukan barcode pertanian di BPP Wongsorejo, Banyuwangi, Jawa Timur
Sumber :
  • Anton Heri Laksana/ VIVA Bali

Banyuwangi, VIVA Bali –Permintaan barcode pembelian Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi jenis solar untuk petani di wilayah Kecamatan Wongsorejo membludak hingga ribuan blanko pengajuan dalam 100 hari terakhir. Akibat hal tersebut, pelayanan pengajuan barcode untuk sektor pertanian tersendat dan sempat mendapat keluhan dari petani. 

img_title Fardhan Bawa Pulang Perak di Kerjuaraan Asia Junior 2026

“Saya sudah mengajukan cukup lama tapi hingga sekarang belum juga selesai. Padahal saya sangat butuh barcode itu,” ujar seorang petani, Sukadi. 

Beberapa petani ini sedang melengkapi sejumlah dokumen yang diperlukan untuk pengajuan Barcode pembelian BBM bersubsidi jenis solar. 

img_title Pihak Perkebunan Kampe Diduga Halangi Damkarat Banyuwangi Masuk Lokasi Kebakaran

Sejak pagi hari, sejumlah petani di wilayah Kecamatan Wongsorejo, Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur silih berganti mendatangi Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) Kecamatan Wongsorejo. 

Sejumlah warga datang berniat mengajukan permohonan barcode untuk pembelian BBM bersubsisdi jenis solar. 

img_title BMKG Keluarkan Peringatan Dini: Cuaca Buruk Intai Aktivitas di Selat Bali

“Setiap hari bisa mencapai 40 sampai 50 pengajuan barcode pada petani yang kami terima dan kami proses,” tutur Kepala BPP Wongsorejo, Darul Probo. 

Tingginya pengajuan barcode tersebut ternyata tidak sebanding dengan jumlah petugas yang berada di BPP Kecamatan Wongsorejo tersebut. 

“Kami disini hanya 4 orang sedangkan yang harus kami layani pengajuannya sangat banyak. Jadi sangat wajar jika ada keterlambatan terkait dengan waktu,” kata Darul Probo pada VIVA News. 

Dalam pengajuan barcode pembelian BBM bersubsidi jenis solar tersebut, pemohon seharusnya melakukan pengisian secara manual pada aplikasi khusus. 

“Namun tidak semua warga yang bisa melakukannya, makanya kami bantu pengisian seluruh data pada aplikasi tersebut. Hal ini juga yang ikut memicu semakin menumpuknya tugas kami,” jelas Kepala BPP Wongsorejo di ruang kerjanya. 

Membludaknya pengajuan barcode pembelian BBM bersubsidi jenis solar tersebut semakin diperparah saat ditemukan warga yang sudah memiliki barcode BBM ini tapi justru mengajukan baru kembali. 

“Ini juga semakin menambah kendala, yang seharusnya kalau mati masa berlakunya hanya cukup diperpanjang saja tapi ini justru pengajuan ulang sebelum masa berlakunya mati. Dampaknya yang seperti saya bilang tadi, terlambat dalam pelayanan,” tegas Kepala BPP Darul. 

Petugas menghimbau agar menjaga dengan baik barcode pembelian BBM bersubsidi jenis solar tersebut dengan baik supaya tidak dimanfaatkan oleh pihak yang tidak bertanggung jawab.