Cara Desa Tibubeneng Atasi Sampah, Libatkan Siswa SD Jadi Garda Depan Perubahan

Desa Tibubeneng luncurkan program edukasi sampah
Sumber :
  • Dewi Umaryati/ VIVA Bali

Badung, VIVA Bali –Di tengah persoalan sampah yang terus membayangi citra Bali sebagai destinasi dunia, Desa Tibubeneng memilih langkah strategis yakni membangun kesadaran sejak usia dini.

img_title Kabur ke Jakarta, Pelaku Penembakan di Klub Malam Canggu Ditangkap

Momentum Hari Bumi 2026 dimanfaatkan untuk meluncurkan gerakan edukasi sampah berbasis anak.

Berkolaborasi dengan Ginting Institute, pemerintah desa meluncurkan program pendidikan lingkungan hidup yang menyasar siswa sekolah dasar (SD).

img_title Penembakan di Klub Malam Canggu, 2 Orang Terluka

Hasil dari konsolidasi elemn desa dan mitra edukasi, program ini dijadwalkan mulai berjalan pada Juni 2026.

Kepala Desa Tibubeneng, Made Kamajaya menegaskan pendekatan edukasi menjadi kunci keberlanjutan.

img_title Koster Tekankan Layanan Publik Berkualitas demi Jaga Citra Pariwisata Bali

Selama ini berbagai aksi seperti bersih pantai hingga pemilahan sampah berbasis banjar telah berjalan, namun perubahan perilaku harus dimulai dari generasi paling muda.

“Kalau anak-anak sudah paham sejak awal, dampaknya akan jauh lebih besar. Mereka bukan hanya menjaga lingkungan sendiri tapi bisa memengaruhi keluarga,” kata Kamajaya dalam jumpa pers yang digelar Rabu, 22 April 2026.

Kepada Bali.viva.co.id Kamajaya menjelaskan program ini tak sekadar teori, karena materi dikemas dalam bentuk interaktif. Mulai dari cerita bergambar, permainan edukatif hingga praktik langsung di rumah dan sekolah.

Siswa diperkenalkan pada konsep 4R, reduce, reuse, recycle, replace atau refuse sebagai dasar pengelolaan sampah modern.

Menariknya, pendekatan seni menjadi daya tarik utama. Seniman Made Bayak akan mengajak siswa mengolah limbah plastik menjadi karya kreatif, sementara kartunis Jango Pramartha menghadirkan edukasi visual berbasis kartun yang lebih mudah dicerna anak-anak.

Tak berhenti di ruang kelas, hasil karya siswa rencananya akan dipamerkan di Wija Reksa Art Hub & Residency, yakni sebuah ruang kreatif yang diharapkan menjadi pusat kolaborasi lintas sektor, dari masyarakat hingga komunitas internasional.

Pendiri Ginting Institute, Daniel Ginting menyebut pendekatan ini sebagai investasi jangka panjang.

Menurut Daniel, membangun kesadaran lingkungan tidak bisa instan, melainkan melalui pembiasaan sejak dini.

“Anak-anak yang paham akan tumbuh menjadi individu yang lebih bertanggung jawab terhadap lingkungan dan ruang sosialnya,” ujar Daniel.

Dengan mengabungkan edukasi, seni dan partisipasi komunitas, Desa Tibubeneng tengah merancang model pengelolaan sampah yang bukan hanya menyelesaikan masalah hari ini tetapi juga membentuk kebiasaan masa depan.

Halaman Selanjutnya
img_title