Kapal Induk AS Krisis Toilet, Mental Tentara Terguncang
- https://www.navytimes.com/resizer/v2/KVGKFF4LLRD3LNK6UBU2BL5BLY.jpg
Amerika Serikat, VIVA Bali –Amerika Serikat dan Iran saat ini sedang mengalami ketegangan geopolitik. Namun, persiapan Amerika terusik karena masalah internal di pasukan Angkatan Laut, Selasa, 24 Februari 2026.
Presiden AS Donald Trump sudah beberapa kali mengancam Teheran dengan tindakan militer jika negara itu tidak mencapai kesepakatan baru tentang program nuklirnya.
Menanggapi eskalasi yang meningkat, kapal induk USS Gerald R Ford sudah dikerahkan ke Timur Tengah. Namun, moralitas tentara AS tampaknya belum siap dalam situasi genting ini.
The Wall Street Journal dilansir dari India Today mengabarkan awak kapal di dalam USS Gerald R Ford sedang menghadapi krisis toilet dan kelelahan fisik.
Tentang masalah toilet, sebagian besar toilet dari sekitar 650 tidak dapat digunakan. Para tentara AS harus sabar mengantri hingga 45 menit.
Kekacauan ini memicu ketegangan internal antara para pelaut dan teknisi kapal. Alasannya, teknisi bertanggung jawab terhadap sistem perpipaan dan perbaikan.
Penyebab Toilet Mampet di Kapal Induk USS Gerald R Ford
Penyebab krisis toilet adalah mampetnya pembuangan. Ini Kapal induk USS Gerald R Ford masih menggunakan sistem berbasis vakum.
Kelemahan sistem ini jika satu katup mengalami gangguan, maka seluruh jaringan toilet bisa lumpuh total. Hal ini tentu mengganggu konsentrasi para pelaut.
Selain masalah sanitasi, persoalan lain timbul karena awak kapal sudah berada di laut sejak Juni 2025. Penugasan panjang menimbulkan ketidakpastian terhadap jadwal kepulangan.
Alhasil, pasukan harus membatalkan waktu berkumpul bersama keluarga masing-masing.
Tinggal berbulan-bulan lamanya di atas laut memicu kelelahan fisik dan mental. Ini berefek kepada stres operasional sehingga dapat memperburuk kondisi moral pasukan.
Jurnalis Brandon Weichert mengatakan kelelahan merupakan faktor kunci dalam penugasan jangka panjang. Hal itu meningkatkan kemungkinan kecelakaan fatal di ruang kokpit.
"Ada juga faktor emosional terkait bagi awak pesawat yang berjumlah besar yang terhubung dengan keluarga mereka yang hilang dalam jangka waktu lama dan siklus emosional penugasan yang dapat menyebabkan kelelahan mental (burnout)," katanya dalam tulisan di laman 19fortyfive.com, 24 Februari 2026.