Menilik Bukti Sejarah Kelenteng Ban Hing Kiong di Manado
- https://indonesiakaya.com/pustaka-indonesia/ban-hing-kiong-kelenteng-berusia-tiga-abad-di-manado/
Wisata, VIVA Bali – Manado telah lama dikenal sebagai salah satu titik pertemuan budaya di Nusantara yang menjunjung tinggi kemajemukan. Keberagaman ini bukanlah sekadar narasi, melainkan fakta hidup yang bisa ditemukan para pengunjung saat menapakkan kaki di Ibu Kota Sulawesi Utara ini. Salah satu bukti fisik paling nyata adalah berdirinya Klenteng Ban Hing Kiong yang telah berusia sekitar tiga abad. Keberadaan bangunan bersejarah ini menjadi simbol betapa eratnya jalinan toleransi yang telah terpupuk sejak lama di tanah Minahasa.
Secara harfiah, nama Ban Hing Kiong membawa doa dan harapan yang mendalam. Kata Ban berarti banyak, Hing bermakna berkah yang melimpah, sementara Kiong diartikan sebagai istana. Jadi, ketika para pengunjung memasuki area ini, mereka sejatinya sedang menginjakkan kaki di "Istana Tuhan dengan berkah yang melimpah". Meskipun bangunan permanennya baru diresmikan pada tahun 1819, perjalanan sejarah tempat ini mencakup rentetan pemugaran panjang yang mencerminkan keteguhan komunitas di sekitarnya dalam menjaga warisan leluhur.
Perjalanan Klenteng Ban Hing Kiong tidak selalu mulus, namun semangat pembaharuannya selalu luar biasa. Para pengunjung perlu tahu bahwa bangunan utama kelenteng ini sempat ludes terbakar pada Maret 1970. Namun, setahun kemudian, proses pembangunan kembali dilakukan dengan sangat teliti agar tetap menyerupai bentuk aslinya. Kelenteng tertua di Manado ini akhirnya diresmikan kembali melalui Upacara Pwa Pwe yang sakral pada September 1994, menandai kebangkitan kembali spiritualitas dan arsitekturnya yang ikonis.
Saat mulai mengeksplorasi bangunan, para pengunjung akan disambut oleh deretan simbol penuh makna pada pintu masuk. Arsitektur kelenteng ini dirancang sebagai sebuah perjalanan filosofis; langkah kaki di bawah gapura diibaratkan sebagai transisi dari kehidupan duniawi menuju kehidupan yang suci. Jalur yang semula sempit kemudian melebar menjadi halaman luas, sebuah simbolisme bahwa Tuhan senantiasa memberikan jalan keluar bagi setiap masalah kehidupan yang dihadapi oleh umat manusia.
Mata para pengunjung pastinya akan langsung tertuju pada bentuk atap kelenteng yang menyerupai perahu. Dalam kacamata rohani, bentuk ini bukan sekadar hiasan, melainkan perlambang perlindungan Tuhan dan Dewa-Dewi yang senantiasa menyelamatkan umat-Nya dari badai kehidupan. Di pintu utama, para pengunjung juga dapat menemukan tulisan Hong Tiau U Sun Kok Thay Ping An, sebuah doa yang memohon agar cuaca selaras sehingga rakyat dan negara senantiasa dalam keadaan tentram.