Penyebab Fenomena Gen Z Sulit Dapat Kerja di 2026

Ilustrasi Generasi Z
Sumber :
  • https://pixabay.com/id/photos/teman-teman-struktur-internet-3175059/

Gaya Hidup, VIVA BaliGenerasi Z alias Gen Z yang dinyatakan sulit mendapat kerja di 2026. Hal ini merupakan dampak dari Pandemi Covid-19 yang telah mengubah berbagai aspek kehidupan, termasuk pendidikan. Pasalnya, Gen Z adalah generasi yang paling mengalami kehilangan pengalaman belajar langsung dan kehilangan kesempatan interaksi sosial untuk membangun keterampilan yang nyata di dunia kerja.

img_title Peran AI Semakin Besar dalam Kehidupan Sehari-hari, Produktivitas Meningkat

Akibatnya, muncul fenomena NEET (Not in Education, Employment, dan Training), yang menunjukkan adanya kurang lebih satu juta orang berusia 16–24 tahun tidak masuk dalam institusi pendidikan, pekerjaan, serta pelatihan hingga akhir 2025.  Berdasarkan jumlah tersebut, bahkan ada sekitar 600.000 yang tidak aktif mencari pekerjaan. Laporan Office for National Statistics (ONS) menyatakan, generasi muda mengalami kesulitan besar untuk mendapatkan pekerjaan pertama mereka.

Dilansir dari Viva, Rabu, 14 Januari 2026, Chief Impact Officer, Julie Leonard mengatakan bahwa pembelajaran daring dan batasan interaksi selama pandemi Covid-19 menciptakan adanya ketidakseimbangan sosial bagi Gen Z, terutama yang saat ini berusia 20 sampai 24 tahun. Salah satu penyebab fenomena ini yaitu karena Gen Z belum siap memasuki dunia kerja akibat kehilangan peluang untuk mengembangkan keterampilan sosial dan pengalaman praktis.

img_title Dari Hobi Menjadi Lifestyle, Lari Semakin Digemari Gen Z dan Milenial

“Banyak orang muda yang kehilangan tahun-tahun penting di bangku pendidikan tatap muka. Alhasil, mereka juga kehilangan pengalaman kerja, kesiapan bekerja, dan soft skill. Kini mereka menjadi dewasa dalam pasar kerja yang sangat sulit dan lanskap rekrutmen yang telah berubah total selama bertahun-tahun. Padahal, soft skill, seperti kemampuan memimpin tim, bekerja sama, dan mengikuti instruksi, menjadi kunci untuk siap kerja,” tuturnya.

Leonard juga menambahkan, banyak generasi muda yang tidak mendapat peluang untuk keluar dari zona nyaman mereka di rumah juga berbicara dengan orang asing atau datang tepat waktu ke sekolah atau pekerjaan. Ia juga menyebut, beberapa perusahaan besar, termasuk KPMG dan PwC, yang menemukan adanya pekerja muda mereka yang kurang dalam keterampilan etiket di tempat kerja, seperti etika komunikasi dan kolaborasi.

img_title Dari Pariwisata hingga AI, Indonesia Siapkan Standar Global Hadapi Era Baru Perdagangan

Dalam hal ini, Leonard menganjurkan generasi muda untuk kembali menggunakan pendekatan konvensional untuk mencari pekerjaan. “Buat CV, datangi langsung toko-toko, ajak bicara manajer. Itu membangun resiliensi dan kepercayaan diri,” ucapnya.

Halaman Selanjutnya
img_title