Perang Topat, Tradisi Unik Simbol Toleransi Hindu-Bali dan Muslim Sasak di Lombok
- https://www.instagram.com/p/DCEVTGuMi2H/?igsh=MWx4MjBxZ3E0NGptMA==
Tradisi, VIVA Bali – Panorama keindahan Lombok Barat, tersimpan sebuah tradisi tahunan yang menggambarkan harmoni luar biasa antarumat beragama. Namanya Perang Topat, sebuah ritual budaya yang tak hanya unik, tapi juga menjadi simbol kuat toleransi antara umat Hindu-Bali dan Muslim Sasak. Setiap tahun digelar saat purnama pada sasih keenam atau ketujuh dalam kalender Bali, tradisi ini berlangsung di Pura Lingsar, Desa Lingsar, tempat di mana perbedaan bukanlah alasan untuk berselisih, melainkan untuk bersatu.
Prosesi Doa Bersama
Ribuan warga dari dua latar keyakinan berbeda datang dengan penuh khidmat. Umat Hindu-Bali mempersiapkan upacara Pujawali, sementara warga Muslim Sasak menyambut dengan semangat dan keterlibatan yang setara. Ritual dimulai dengan doa bersama, mencerminkan sikap saling menghormati yang telah terjaga selama ratusan tahun.
Arak-arakan meriah mengiringi prosesi. Gendang beleq alat musik tradisional khas Sasak menggetarkan suasana. Warga membawa persembahan, mengenakan pakaian adat, dan berjalan bersisian. Tak ada sekat, hanya semangat kebersamaan yang terasa kental di antara mereka.
Ketupat Terbang
Puncak acara terjadi ketika masyarakat mulai melempar ketupat ke arah satu sama lain. Namun, jangan bayangkan suasana panas atau konflik. Justru sebaliknya. Perang Topat adalah perang yang penuh tawa dan sukacita. Ketupat dilempar bukan untuk melukai, melainkan untuk merayakan persaudaraan dan kerukunan.
Ketupat-ketupat itu kemudian dikumpulkan dan ditanam di sawah sekitar. Tindakan ini bukan tanpa makna. Ia melambangkan doa untuk kesuburan tanah dan panen yang melimpah. Sebuah simbol kuat bahwa keharmonisan sosial memiliki dampak langsung pada kesejahteraan bersama.
Simbol Moderasi Beragama
Tradisi Perang Topat adalah manifestasi nyata moderasi beragama, cerminan betapa leluhur masyarakat Lingsar telah menanamkan nilai-nilai hidup berdampingan dalam bingkai adat dan keyakinan masing-masing.
Di saat dunia kerap dilanda konflik berlatar agama, Lingsar memberi pelajaran sederhana tapi dalam: toleransi bukan hanya bisa diwujudkan, tapi juga dirayakan dengan suka cita. Tradisi ini menjadi bukti bahwa keragaman bukan tantangan, melainkan potensi besar untuk membangun peradaban yang damai.
Pulau Seribu Masjid dan Toleransi