Detoks Media Sosial Saat Weekend, Benarkah Baik untuk Kesehatan Mental?
- https://acesse.one/p8h7ebq
Lifestyle, VIVA Bali –Akhir pekan sering dimanfaatkan banyak orang untuk beristirahat setelah menjalani rutinitas yang padat selama lima hari kerja. Namun, tak sedikit yang justru menghabiskan waktu berjam-jam untuk menggulir media sosial tanpa henti. Meski terasa menghibur, kebiasaan tersebut ternyata dapat membuat pikiran semakin lelah. Karena itu, tren detoks media sosial atau social media detox mulai banyak dilakukan, terutama oleh kalangan Gen Z dan milenial.
Detoks media sosial merupakan upaya membatasi atau menghentikan sementara penggunaan platform digital seperti Instagram, TikTok, X, Facebook, hingga Threads dalam jangka waktu tertentu. Tujuannya bukan untuk menghindari teknologi sepenuhnya, melainkan memberi kesempatan bagi otak untuk beristirahat dari derasnya arus informasi yang diterima setiap hari.
Psikolog menilai bahwa paparan konten yang terus-menerus dapat memengaruhi kondisi emosional seseorang. Tanpa disadari, kebiasaan membandingkan diri dengan kehidupan orang lain di media sosial dapat memicu rasa cemas, tidak percaya diri, hingga munculnya fenomena fear of missing out (FOMO), yaitu perasaan takut tertinggal informasi atau pengalaman yang sedang dialami orang lain.
Tak hanya itu, kebiasaan terus mengecek notifikasi juga membuat otak sulit benar-benar beristirahat. Akibatnya, seseorang bisa merasa cepat lelah, sulit berkonsentrasi, bahkan tetap merasa penat meski sedang menikmati hari libur.
Melakukan detoks media sosial saat akhir pekan dinilai menjadi salah satu cara sederhana untuk menjaga kesehatan mental. Dengan mengurangi waktu di depan layar, seseorang memiliki kesempatan untuk kembali menikmati aktivitas di dunia nyata, seperti berkumpul bersama keluarga, membaca buku, berolahraga, memasak, atau sekadar berjalan santai di taman.
Beberapa penelitian juga menunjukkan bahwa mengurangi penggunaan media sosial dalam waktu tertentu dapat membantu menurunkan tingkat stres dan meningkatkan suasana hati pada sebagian orang. Meski demikian, manfaatnya dapat berbeda-beda tergantung kebiasaan dan kondisi masing-masing individu. Dilansir dari dkis.cirebonkota.go.id.
Bagi mereka yang belum terbiasa, detoks media sosial tidak harus dilakukan secara ekstrem. Mulailah dengan menetapkan batas waktu penggunaan gawai, misalnya satu hingga dua jam sehari, mematikan notifikasi yang tidak penting, atau menghindari membuka media sosial selama beberapa jam di pagi hari. Langkah kecil yang dilakukan secara konsisten sering kali lebih mudah dipertahankan dibandingkan berhenti total dalam waktu singkat.