Desa Tibubeneng Bangun Kesadaran Lingkungan Lewat Seni
- Dok. Ginting Institute/ VIVA Bali
Badung, VIVA Bali –Persoalan sampah dan lingkungan dapat disampaikan dengan berbagai cara.
Di Desa Tibubeneng, Kecamatan Kuta Utara, Badung, isu tentang sampah justru diangkat melalui karya seni yang melibatkan seniman, masyarakat hingga anak-anak sekolah dasar.
Upaya ini diwujudkan melalui program Tibubeneng Sustainable Art yang digagas Ginting Institute bersama Pemerintah Desa Tibubeneng.
Program ini mencapai puncaknya dengan peresmian Wija Reksa Quoriena Art Hub & Residency (WRQ), sebuah ruang kolaborasi yang diharapkan menjadi pusat kegiatan seni, budaya, pendidikan dan praktik lingkungan berkelanjutan.
Pendiri Ginting Institute, Daniel Ginting menjelaskan seni memiliki kekuatan untuk membangun kesadaran masyarakat terhadap berbagai persoalan sosial dan lingkungan.
“Kami percaya seni tidak boleh berhenti di ruang pamer. Seni harus hadir di tengah masyarakat, membuka percakapan, membangun empati dan menggerakkan tindakan,” kata Daniel, Jumat, 12 Juni 2026.
Dalam rilis yang diterima Bali.viva.co.id, Daniel mengatakan Wija Reksa Quoriena Art Hub & Residency dibangun sebagai ruang kolaborasi yang menghubungkan seniman, warga dan berbagai gagasan yang dapat bermanfaat untuk masyarakat.
Berbeda dengan galeri seni pada umumnya, WRQ tidak hanya tempat memamerkan karya.
Ruang ini dirancang sebagai pusat kolaborasi yang melibatkan masyarakat secara aktif melalui berbagai kegiatan edukasi, pengembangan komunitas, pelestarian budaya hingga kampanye lingkungan.
Kepala Desa Tibubeneng I Made Kamajaya menilai pendekatan seni menjadi cara efektif untuk mengajak masyarakat dalam memahami isu lingkungan.
“Saat pesan lingkungan disampaikan melalui karya seni dan kegiatan kreatif, masyarakat lebih mudah memahami dan merasakan relevansinya dalam kehidupan sehari-hari,” kata Kamajaya.
Kolaborasi ini, lanjut Kamajaya, menjadi langkah penting untuk membangun kesadaran bersama terutama bagi generasi muda.
Program Tibubeneng Sustainable Art ini diawali dengan Lomba Mengarang Ayo Peduli Sampah yang diikuti sekitar 250 siswa SD se-Desa Tibubeneng.
Edukasi lingkungan juga diberikan kepada siswa di 5 SD melalui program Ayo Peduli Sampah.
Dalam kegiatan ini, siswa juga dikenalkan pengelolaan sampah sejak dini, mulai dari mengenali jenis sampah, prinsip 4R, yakni Reduce, Reuse, Recycle dan replace, serta pengolahan sampah hingga bahaya limbah Bahan Berbahaya dan Beracun (B3).