Dari sawah Ubud hingga Jadi Ikon Kuliner Bali, Begini Perjalanan Bebek Bengil Bertahan hingga 35 Tahun
- Dewi Divianta/ VIVA Bali
Gianyar, VIVA Bali –Bebek Bengil nama restoran bebek kenamaan Ubud sudah lama menjadi salah satu ikon kuliner di Bali. Jadi pionir restoran bebek pertama di Bali, Bebek Bengil memiliki kisah unik yang berasal dari nama restoran itu sendiri.
Hal itu diceritakan oleh generasi ketiga restoran Bebek Bengil yakni Anak Agung Gde Diva Suputra (22), bahwa pada jaman kakeknya menjual olahan bebek pertama kali belum memiliki nama.
Hingga pada akhirnya, ketika tengah berada di warung tersebut sang kakek melihat ada gerombolan bebek yang masuk warung kecil milik sang kakek dalam kodisi kaki penuh lumpur.
"Bebek-bebek masuk dan kakinya membekas. Kalau orang Bali bilang bengil itu kotor, jadi dari sana kakek saya menemukan nama untuk restoran ini. Sekarang sudah sekitar 35 tahun berdiri dengan ciri khas rasa bebek yang krispi dan juicy," katanya ditemui di Outlet Bebek Bengil Ubud, Gianyar, Kamis 23 April 2026.
Meski saat ini banyak kompetitor kenamaan yang menjual menu serupa, Bebek Bengil tidak pernah kehilangan pasarnya.
Menu andalan Bebek Bengil Ubud, Gianyar, Bali
- Dewi Divianta/ VIVA Bali
Bagaimana tidak, selain menjual olahan bebek krispi, juicy restoran ini memberikan bonus pemandangan alami persawahan yang ada di tengah-tengah restoran tersebut.
Tema yang sangat instagramable dipadukan dengan suasana khas Bali dan juga olahan bebek yang berbeda dari yang lainnya sangat membuat restoran ini melegenda hingga puluhan tahun.
Restoran yang mengandalkan pengunjung dari wisatawan itu mengaku sangat terbantu dengan adanya para turis yang datang ke Bali khususnya warga negara asing.
Meski ia tak menampik kunjungan wisatawan lokal juga cukup mendominasi restorannya.
Namun, sejak konflik timur tengah banyak pesawat yang transit di wilayah tersebut tak ada penerbangan membuat kunjungan turis asing menurun dan berdampak pada kunjungan ke restoran mereka.
Sejak awal berdiri, restoran mereka ini banyak mengandalkan pasar wisatawan mancanegaraterutama Eropa, negara-negara barat, dan China.
Diva Suputra mengaku dampak itu mulai dirasakan sejak awal Januari 2026 hingga saat ini, penurunannya berdampak hingga 50 persen.
"Dampak perang sangat pengaruh. Dampaknya itu besar sekali dibanding tahun lalu, bisa di atas 50 persen. Apalagi, market kami banyak dari Western dan Chinese. Biasanya kan mereka transit di Abu Dhabi, sekarang banyak yang harus muter, jadi lebih mahal. Akhirnya grup-grup Eropa dan Western cancel," ungkap Diva Suputra.