Tradisi Manusuk Sima, Ritual Sakral di Balik Sejarah Berdirinya Kota Kediri
- https://jatim.antaranews.com/foto/905349/upacara-manusuk-sima-hut-nganjuk
Budaya, VIVA Bali – Setiap tanggal 27 Juli, Kota Kediri memperingati hari jadinya dengan sebuah upacara yang kental akan nuansa magis dan historis: Ritual Manusuk Sima. Jauh dari sekadar seremoni rutin, tradisi ini merupakan rekonstruksi peristiwa besar yang terjadi lebih dari sebelas abad yang lalu, tepatnya pada tahun 879 Masehi.
Akar Sejarah: Prasasti Kwak
Dasar hukum dan sejarah Kota Kediri berpijak pada Prasasti Kwak yang berangka tahun 801 Saka (27 Juli 879 M). Dalam prasasti tersebut, dikisahkan bahwa wilayah tersebut ditetapkan sebagai Sima (daerah perdikan atau bebas pajak) oleh Raja Mataram Kuno saat itu, Rakai Kayuwangi.
Manusuk Sima sendiri berasal dari kata:
- Manusuk: Menancapkan atau menetapkan.
- Sima: Wilayah suci yang dibebaskan dari pajak kerajaan karena tugas tertentu (biasanya pemeliharaan tempat ibadah).
Urutan Ritual: Menghidupkan Masa Lalu
Ritual ini biasanya digelar di kawasan Gua Selomangleng, sebuah situs sejarah yang menjadi ikon spiritual Kediri. Prosesi dilakukan dengan sangat detail untuk mendekati suasana aslinya:
1. Prosesi Kirab
Para peserta upacara, yang terdiri dari pejabat pemerintah (berperan sebagai raja dan petinggi kerajaan) serta seniman, mengenakan busana adat Jawa Kuno lengkap. Mereka membawa sesaji dan replika Prasasti Kwak menuju pusat upacara.
2. Pembacaan Kutukan (Sapatha)
Bagian paling sakral dari Manusuk Sima adalah pembacaan Sapatha atau sumpah kutukan. Pada masa Jawa Kuno, penetapan Sima dianggap suci. Siapa pun yang berani melanggar aturan di wilayah tersebut akan terkena kutukan mengerikan, seperti "dikeluarkan isi perutnya" atau "dihantam petir tanpa hujan".
3. Pemotongan Ayam dan Pemecahan Telur
Sebagai simbol pembersihan diri dan pengabsahan, dilakukan ritual pemecahan telur dan pemotongan ayam hitam (cemani). Ini melambangkan bahwa siapa pun yang berniat jahat terhadap ketetapan kota akan bernasib sama dengan telur yang pecah tersebut.
Makna Filosofis bagi Masyarakat Modern
Bagi warga Kediri saat ini, Manusuk Sima bukan sekadar tontonan budaya, melainkan memiliki makna mendalam:
- Legitimasi Identitas: Menegaskan bahwa Kediri adalah salah satu kota tertua di Indonesia dengan peradaban yang sudah tertata sejak abad ke-9.