Budaya Melaksanakan Mesambakai di Kabupaten Kolaka

Mesambakai 2024 di Kabupaten Kolaka
Sumber :
  • Mesambakai 2024 di Kabupaten Kolaka

Budaya, VIVA BaliMelalui filosofi menengok kelahiran bayi ataupun bayi kembar, tradisi sarat makna hadir karena dihidupkan oleh budaya luhur. Selain bersyukur, mendoakan atas segala kebaikan, rahmat, kekuatan bagi bayi menjadi budaya saat upacara kelahiran bayi hingga melaksanakan pemberian nama kepada bayi. Tradisi menyambut bayi lahir ini dalam Islam dilaksanakan sebelum melaksanakan khitan kepada sang anak. Dinas Pariwisata Kabupaten Kolaka (tahun 2024) menulis Mesambakai Kelahiran Anak adalah salah satu tradisi adat yang sarat makna dalam budaya suku Mekongga, Kabupaten Kolaka, Provinsi Sulawesi Tenggara dan sekitarnya yang mana tradisi luhur ini dilakukan untuk merayakan kelahiran seorang anak sekaligus sebagai bentuk ungkapan syukur dan harapan terhadap kehidupan baru yang hadir dalam keluarga. Dinas Pariwisata Kabupaten Kolaka (2024) menulis pelaksanaan tradisi ini merupakan bagian penting dari siklus kehidupan masyarakat Mekongga selain filosofi pelaksanaan adat-istiadat, di mana kelahiran seorang anak dianggap sebagai berkat yang besar dan momen yang sakral untuk dirayakan bersama keluarga besar sehingga komunitas.

img_title Sistem Adat Negeri Haruku dalam Tradisi Sasi Lompa

Filosofi memberi doa, cinta, dan rahmat diberikan kepada bayi dilaksanakan secara bahasa dan istilah dalam Tradisi Mesambakai. Dinas Pariwisata Kabupaten Kolaka (2024) mengutarakan Kata Mesambakai berasal dari bahasa daerah yang berarti "memberikan" atau "menyampaikan," dan dalam konteks kelahiran, tradisi adat istiadat ini mengandung makna pemberian berkah dan doa kepada bayi yang baru lahir karena Tradisi Mesambakai Kelahiran Anak biasanya dilakukan setelah beberapa hari atau minggu sejak kelahiran, tergantung dari kesepakatan keluarga, pelaksanaan adat-istiadat, kebiasaan adat setempat.


Melaksanakan Mesambakai Sakral
Pelaksanaan adat-istiadat dalam Mesambakai berisi doa, harapan, rencana pemberian nama, biaya hingga ramuan. Dinas Pariwisata Kabupaten Kolaka (2024) mengutarakan pelaksanaan budaya luhur ini dimulai dengan serangkai prosesi adat yang dipimpin oleh tetua adat atau tokoh yang dihormati dalam masyarakat dengan melaksanakan kegiatan membacakan doa-doa dan harapan agar sang bayi tumbuh sehat, kuat, serta diberkahi dalam kehidupannya karena dalam prosesi ini, bayi yang baru lahir biasanya dibedaki atau diratakan seperti memakai bedak dengan ramuan tradisional yang terbuat dari bahan-bahan alami sebagai simbol penyucian dan perlindungan yang dipercaya bisa memberikan perlindungan spiritual dari hal-hal negatif dan menjaga kesehatan sang bayi.

Halaman Selanjutnya
img_title
img_title Sistem Adat Melayu Rokan Hilir dalam Tradisi Menyemah Laut