Festival Perang Topat dan Tiga Pesona Lombok Barat
- https://eventdaerah.kemenparekraf.go.id/detail-event/festival-perang-topat-2
Budaya, VIVA Bali –Kabupaten Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat, bukan hanya dikenal karena keindahan alamnya yang memikat, tetapi juga kaya akan warisan budaya. Salah satu tradisi yang paling unik dan sarat makna adalah Perang Topat yang biasanya dilaksanakan di Pura Lingsar. Festival adalah manifestasi nyata dari harmoni sosial dan pluralisme yang telah dijaga turun-temurun, menjadikannya magnet yang menarik wisatawan sekaligus cermin kerukunan umat beragama.
Makna Mendalam Tradisi Perang Topat
Tradisi Perang Topat dilaksanakan setiap tahun di Pura Lingsar, Kecamatan Lingsar, Lombok Barat. Pura Lingsar sendiri merupakan kompleks suci yang dihormati umat Hindu dan juga terdapat Kemaliq yang dikeramatkan oleh sebagian besar suku Sasak (Muslim Wetu Telu dan Muslim umumnya), mencerminkan perpaduan keyakinan yang unik.
Perang Topat adalah ritual yang menjadi simbol kuat toleransi dan pluralisme di Pulau Lombok. Ritual ini dilaksanakan oleh masyarakat Hindu dan Muslim secara bersama-sama. Kegiatan utamanya adalah saling lempar topat (ketupat) yang sudah direndam air. Perang ini bukanlah konflik, melainkan sebuah komunikasi dan kebersamaan yang bertujuan untuk mempererat tali persaudaraan antarumat beragama.
Dikutip dari potal resmi Lombok Barat, Bupati Lombok Barat pernah menegaskan bahwa tradisi ini adalah warisan leluhur yang mengajarkan masyarakat untuk menghargai perbedaan dan bersikap toleransi, di mana perbedaan dipandang sebagai hukum alam, bukan alasan untuk perdebatan atau pertengkaran. Tujuan utama dari Perang Topat adalah mempererat persatuan dan kesatuan.
Waktu Pelaksanaan dan Harapan Kesuburan
Menjadi agenda tahunan, Perang Topat biasanya dilaksanakan bertepatan dengan momen bulan purnama (sekitar pukul 17.30 WITA) yang juga dikenal dengan sebutan rorok kembang waru (gugur bunga waru) dalam Bahasa Sasak. Dalam pelaksanaannya, masyarakat tidak hanya saling melempar ketupat tapi juga menampilkan berbagai tari adat seperti Seni Tari Sejarah Lingsar dan Seni Tari Sejarah Perang Topat.
Secara historis, tradisi ini adalah ungkapan rasa syukur atas hasil panen yang melimpah. Uniknya, ketupat yang sudah digunakan dalam pertempuran tersebut tidak dibuang, melainkan memiliki makna ritual agrikultur tersendiri. Ketupat ini akan dibawa pulang oleh petani dan dijadikan bubus (pupuk) yang ditaburkan di sawah atau kebun pada malam hari. Hal ini diyakini dapat mendatangkan kesuburan bumi dan menjamin hasil pertanian yang semakin melimpah pada musim tanam berikutnya.