Tradisi Tabuik Pariaman, Warisan Budaya Bernilai Spiritual Tinggi

Ritual Tabuik di Pariaman, penuh nilai sejarah dan kebersamaan
Sumber :
  • https://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/8/89/Tabuik_festival.jpg

Tradisi, VIVA BaliSetiap tahun, masyarakat Kota Pariaman menyemarakkan tradisi Tabuik, sebuah perayaan penuh makna yang sarat dengan nilai sejarah, budaya, dan spiritual. Tradisi ini, yang dimulai dari 1 sampai 10 Muharram dalam kalender Islam bertepatan dengan peringatan Asyura telah menjadi identitas khas Pariaman serta magnet bagi wisatawan domestik dan mancanegara.

img_title Menari di Atas Api, Menyingkap Magis dan Filosofi Tari Kecak Bali

Asal-Usul dan Sejarah

Istilah “Tabuik” berasal dari bahasa Arab tabut, yang berarti “peti kayu”. Asal muasal tradisi ini dipengaruhi oleh komunitas Muslim dari India Selatan yang datang ke Pariaman pada abad ke-19.

img_title Mengapa Jenazah di Desa Trunyan Tidak Dikubur? Mengungkap Tradisi Unik Bali Aga

Upacara Tabuik di Pariaman diyakini telah dimulai sejak sekitar tahun 1824 M, dan mulai terorganisir secara masyarakat Nagari.

Setelah sempat terhenti beberapa dekade pasca kemerdekaan RI, perayaan Tabuik “hidup kembali” sekitar tahun 1980. Sejak itu, hanya dua Tabuik resmi  Tabuik Pasa dan Tabuik Subarang  yang terus dipertahankan sebagai tradisi utama.

img_title Prambanan Jazz 2026 Pecah! NIKI Sukses Curi Perhatian Ribuan Penggemar

Rangkaian Ritual dan Arti Simbolis

Perayaan Tabuik dilengkapi dengan berbagai ritual simbolik dan prosesi yang melibatkan seluruh lapisan masyarakat  dari anak-anak hingga kalangan tua, dalam semangat kebersamaan dan penghormatan.

Beberapa fase penting dalam tradisi ini antara lain:

Maambiak Tanah  pengambilan tanah sakral sebagai simbol kuburan Imam Husain.

Manabang Batang Pisang  prosesi menebang batang pisang, menggambarkan simbolisme tubuh terluka.

Pembuatan Tabuik  dua menara besar berbahan bambu/rotan/kayu, dihias ornamen warna-warni, bahkan kadang replika makhluk bersayap seperti Buraq, yang dipercaya membawa roh ke akhirat. Tabuik bisa menjulang tinggi hingga 12–15 meter.

Hoyak Tabuik  prosesi arak-arakan Tabuik, diiringi gendang tasa, kolaborasi komunitas, dan adrenalin saat menara digoyang bersama kerumunan orang.

Pembuangan Tabuik ke laut di pantai (umumnya Pantai Gandoriah), sebagai simbol melepaskan duka, persatuan, dan pelepasan spiritual  menyerupai “pulangnya” roh kearwah leluhur.


 

Nilai Sosial, Budaya & Pariwisata

Bagi masyarakat Pariaman, Tabuik bukan hanya ritual  ia adalah identitas kolektif, simbol kebersamaan, dan warisan budaya yang hidup dari generasi ke generasi. Penelitian menyebutkan bahwa tradisi ini berperan penting dalam pelestarian sejarah dan identitas budaya masyarakat setempat.

Halaman Selanjutnya
img_title