Mengenal Marbinda dan Marhobas, Tradisi Perayaan Natal Suku Batak di Sumatera Utara yang Melambangkan Kebersamaan
- https://api.kemenpar.go.id/storage/app/resources/image_artikel/Foto%20-%20Tarian%20Suku%20Batak%20(shutterstock.com_MarlonFranco).jpg
Tradisi, VIVA Bali –Menjelang perayaan Natal, masyarakat Batak di Sumatera Utara kembali menghidupkan tradisi kuno yang sarat makna, yaitu Marbinda dan Marhobas. Tradisi ini bukan hanya sekadar ritual keagamaan, tetapi juga simbol persaudaraan, gotong-royong, dan rasa syukur antar komunitas, sekaligus menawarkan pengalaman Natal yang berbeda dari perayaan biasa.
Marbinda adalah tradisi masyarakat suku Batak yang dilakukan menjelang Natal. Dalam tradisi ini, warga secara kolektif menyumbang dana selama berbulan-bulan untuk membeli hewan berkaki empat, seperti sapi, kerbau, atau babi. Hewan-hewan itu kemudian disembelih bersama sebagai simbol kebersamaan dan pengorbanan.
Dikutip dari laporan Antara News, jemaat GKPI Pandan di Kabupaten Tapanuli Tengah menghidupkan kembali tradisi ini dengan menyembelih hewan dan kemudian membagikannya kepada sekitar 120 jemaat sebagai wujud solidaritas dan persaudaraan.
Setelah penyembelihan, dilakukan tradisi Marhobas, yaitu memasak daging hasil sembelihan secara bersama. Meski Antara News tidak secara rinci menjelaskan proses Marhobas, penelitian akademik menjelaskan bahwa dalam Marhobas ini terdapat kerja gotong royong. Kaum laki-laki biasanya melakukan pemotongan daging, sedangkan kaum perempuan menyiapkan bumbu dan alat masak. Dalam jurnal Magistra, disebutkan bahwa marhobas mencerminkan nilai marsiadapari, yaitu gotong royong dan kearifan lokal dalam pesta Batak, serta menumbuhkan spiritualitas masyarakat.
Menurut sumber budaya-indonesia.org, marbinda memiliki makna si sada hudon, yaitu semua orang makan dari satu ternak yang sama, tanpa membeda-bedakan sumber kontribusi tiap orang. Demikian ini mengokohkan nilai keadilan, maksudnya setiap anggota masyarakat mendapat bagian yang setara meskipun kontribusi mereka berbeda-beda.
Gotong-royong dalam penyembelihan dan memasak memperkuat ikatan komunitas.
Selain itu, tradisi ini menegaskan rasa syukur kepada Tuhan atas karunia selama setahun, serta harapan untuk menyambut tahun baru dengan suasana hangat dan penuh kebersamaan.
Salah satu contoh pelestarian tradisi ini terlihat di GKPI Pandan, Kabupaten Tapanuli Tengah. Menjelang Natal, jemaat kaum Bapak menggalakkan kembali Marbinda setelah hampir 30 tahun tidak digelar secara resmi. Mereka menyumbang sukarela untuk membeli hewan, yang kemudian disembelih dan dibagikan ke lebih dari 120 jemaat.