Tradisi Talempong Unggan Warisan Pentatonik dari Nagari Unggan
- https://indonesia.go.id/kategori/seni/6804/talempong-dan-harmonisasi-pentatonik-musik-minang?lang=1
Budaya, VIVA Bali – Talempong Unggan adalah salah satu kekayaan musik tradisional dari ranah Minangkabau yang tersimpan di Nagari Unggan, Kecamatan Sumpur Kudus, Kabupaten Sijunjung, Sumatra Barat. Alat musik pukul yang terbuat dari logam kuningan ini merupakan sebuah warisan budaya takbenda nasional yang memiliki sejarah panjang dan kaidah yang sangat berbeda dibandingkan dengan jenis talempong lainnya.
Talempong secara umum sering disamakan dengan instrumen bonang dalam gamelan Jawa. Namun, Talempong Unggan memiliki keunikan mendasar, yaitu hanya menggunakan sistem lima nada yang pentatonik yang menghasilkan harmonisasi khas Minangkabau yang bersemangat namun tetap bernuansa sakral.
Struktur yang Khas
Secara struktural, satu set Talempong Unggan biasanya terdiri dari lima hingga enam buah talempong yang diletakkan di atas wadah kayu panjang yang disebut rancakan, kemudian diiringi dua buah gendang dan satu buah aguang (gong besar). Komposisi pemainnya pun terbilang minimalis, hanya melibatkan empat orang, yakni satu pemain talempong, dua pemain gendang, dan satu pemain aguang.
Tradisi setempat menyebutkan bahwa Talempong Unggan dibawa ke Nagari Unggan oleh dua tokoh penting, yakni Dt. Rajo Indo Puto dan Dt. Panduko Alam dalam upaya memperluas adat istiadat Minangkabau. Keunikan utama dari kesenian ini terletak pada gaya permainannya. Talempong Unggan termasuk dalam jenis talempong yang dimainkan sambil duduk di atas rancakan sehingga sering juga disebut sebagai kategori Talempong Modern. Berbeda dengan talempong pacik yang dimainkan sambil dipegang.
Para pemain Unggan dikenal sangat mengutamakan teknik penyajian dan kecepatan irama daripada sekadar melodi. Kelenturan lengan menjadi kunci utama karena tempo permainan Talempong Unggan bisa mencapai dua kali lebih cepat dari jenis talempong lainnya. Pukulan stik harus dinamis dan presisi, menghantam pencu (benjolan) talempong dari jarak sekitar sepuluh sentimeter. Bahkan, penataan urutan nada pada talempong-talempong tersebut tidak selalu berurutan seperti tangga nada baku, melainkan disesuaikan dengan lagu yang akan dibawakan. Lagu-lagunya pun terinspirasi dari alam, seperti "Ramo-Ramo Tabang Tinggi" atau "Pararakan Kuntu".