Naskah Kuno ke Komik Horor Kocak Tatang S.
- https://unsplash.com/id/foto/orang-yang-memegang-buku-putih-dan-hitam-BfGuQJpDolQ?utm_source=unsplash&utm_medium=referral&utm_content=creditShareLink
Budaya, VIVA Bali –Pernahkah Anda penasaran, kenapa sih sosok-sosok hantu dalam komik lawas Tatang S. rasanya begitu akrab dan 'Jawa' banget? Ternyata, ada jejak sejarah dan literasi kuno yang menghubungkannya, perkenalkan Kakawin Sena, yang menunjukkan citra hantu adalah wujud dari konsep pemahaman yang dipercaya dan diyakini masyarakat sejak lama.
Studi Terbaru
Studi yang dimaksud adalah jurnal ilmiah berjudul "Kakawin Sena: Representasi Citra Hantu dan Transformasinya pada Komik Petruk Karya Tatang S.". Penulisnya, Heri Isnaini, merupakan akademisi dari IKIP Siliwangi, Indonesia, yang fokus pada ranah sastra. Penelitian ini menggunakan teori semiotika dalam kerangka sastra bandingan.
Heri Isnaini melakukan perbandingan antara teks Kakawin Sena, yang merupakan naskah kuno Jawa, dengan media populer, yaitu komik. Tujuan utamanya adalah melihat bagaimana citra hantu yang sudah dikenali masyarakat luas, yang terdapat dalam Kakawin Sena, diwujudkan menjadi gambar dalam komik karya Tatang S..
Katalog Hantu Klasik Jawa
Kakawin Sena adalah naskah kuno yang menceritakan perjalanan spiritual tokoh Sena saat memasuki hutan lebat yang penuh misteri. Diperkirakan ditulis pada abad ke-16 hingga ke-18, naskah ini menggambarkan berbagai wujud hantu yang dipercaya oleh masyarakat Jawa. Penggambaran tersebut adalah manifestasi atas kepercayaan masyarakat terhadap keberadaan makhluk gaib.
Naskah kuno ini memberikan deskripsi hantu secara sangat rinci dan detail. Sena bertemu dengan berbagai jenis makhluk, seperti banaspati, kamangmang, wewe gombel, gederuwo, hingga demit usus, yang mencoba menghalangi perjalanannya. Citraan hantu dideskripsikan jelas, seperti makhluk yang berposisi terbalik, bermata merah, dan berambut terurai.
Penulis jurnal mengutip langsung deskripsi hantu dari Kakawin Sena untuk menunjukkan kekayaan citraan, "haneki manibeng sakeng griwa magěng hana sumungsang mangsěh mata bang mawělu tutuk mangah mangah rambutnya wrah humure mwang tang kuměrab ikang kamangmang i luhuring kaywan mabra sinang mangkrik tang swaraning banaspati lawan danawa banŕalungan".
Kutipan di atas diterjemahkan sebagai, “Ada yang jatuh dari tengkuk, besar. Ada yang dengan posisi terbalik (sungsang) menyerbu matanya merah, membelalak, mulutnya terlihat merah, rambutnya berkibar, berjurai dan tergerai. Hantu Kamangmang (hantu kepala) di atas pohon menyala, bersinar-sinar. Berbunyi nyaring suara hantu Banaspati dan rasaksa Bandalungan".