Bagaimana Kisah Kuno La Galigo Menyelamatkan Hutan Sulawesi

Narasi panjang penyelamat alam
Sumber :
  • https://commons.wikimedia.org/wiki/File:Galigo.jpg

Tradisi, VIVA Bali –Di Luwu Timur, Sulawesi Selatan, ada sebuah komunitas bernama Cerekang yang membuktikan hal besar, di mana mereka mengintegrasikan kepercayaan epik Bugis ke dalam kehidupan sehari-hari. Kearifan lokal mereka yang disebut Pengetahuan Ekologi Tradisional (PET) telah menjadi benteng kokoh untuk mempertahankan keseimbangan alam dari eksploitasi lingkungan.

img_title Sistem Filosofi dalam Grebeg Sawal

Penelitian berjudul “The Cultural Transmission of Traditional Ecological Knowledge in Cerekang, South Sulawesi, Indonesia” dimuat dalam jurnal bergengsi SAGE Open edisi Oktober–Desember 2023. Para peneliti menjelaskan bahwa PET masyarakat Cerekang bersumber langsung dari konstruksi mitologis epos La Galigo.

Ini adalah kisah tentang bagaimana ajaran leluhur mampu mengatasi banjir dan gempuran tambang, sebuah temuan menarik yang diangkat oleh tim peneliti dalam jurnal internasional. Dipimpin Andi Muhammad Akhmar bersama Fathu Rahman, Supratman, Husain Hasyim, dan Muhammad Nawir. Mereka adalah akademisi dan peneliti di bidang sosiologi dan lingkungan yang fokus pada transmisi budaya dan kearifan lokal di Indonesia.

img_title Sistem Pantun dalam Irama Batanghari Sembilan

Warisan Batara Guru dan Hutan Sakral

Bagi masyarakat Cerekang, daerah mereka adalah titik sentral sejarah mistis, tempat di mana Batara Guru diyakini turun ke bumi, mereka menyebutnya sebagai permulaan ale lino (kehidupan di bumi). Keyakinan ini menempatkan masyarakat Cerekang sebagai keturunan yang memiliki tanggung jawab sakral untuk melindungi sepuluh situs suci adat mereka.

img_title Sistem Budaya dalam Wayang Palembang

Situs yang dikenal sebagai pangngaleq adeq. Situs-situs ini meliputi Bukit Pengsimaoni (lokasi turunnya Batara Guru) hingga kawasan bakau di muara Sungai Cerekang yang berfungsi penting.

Ajaran konservasi utama mereka, atau pappaseng, menekankan prinsip "bertanamlah tanpa merusak alam," yang menghubungkan pelestarian hutan dengan hubungan harmonis bersama leluhur. Pelanggaran terhadap hutan adat yang dilindungi ini diyakini akan membawa konsekuensi serius, yang mereka ungkapkan melalui peringatan keras.

Salah satu mekanisme konservasi paling unik adalah kepercayaan mereka terhadap buaya putih sebagai inkarnasi dari Sawerigading, cucu Batara Guru, yang bertindak sebagai penegak hukum adat. Buaya-buaya tersebut diperlakukan sebagai kerabat, dijuluki nene (nenek), sehingga dilarang keras untuk dibunuh, menjamin keberlanjutan ekosistem sungai.

Halaman Selanjutnya
img_title