Menelusuri Kearifan Lokal Penyangga Alas Purwo
- https://commons.wikimedia.org/wiki/File:Hutan_Alas_Purwo.jpg
Tradisi, VIVA Bali –Di ujung selatan Kabupaten Banyuwangi, tersembunyi sebuah desa bernama Kalipait, pintu gerbang sekaligus desa penyangga bagi Taman Nasional Alas Purwo. Bagi masyarakatnya, hutan bukan sekadar sumber mata pencaharian tetapi juga memiliki fungsi sosial, budaya, dan religiusitas.
Hubungan antara masyarakat tradisional dengan hutan ini telah terjalin erat selama ratusan tahun. Interaksi berulang dengan sumber daya alam hutan telah membentuk suatu kearifan lokal.
Tradisi, aturan, dan pantangan telah menyatu dengan ekosistem. Kearifan lokal ini dianggap sebagai anugerah Tuhan atau pemberian yang bersifat suci dan sakral dan wajib dijaga kelestariannya agar tidak musnah atau dieksploitasi secara berlebihan.
Penelitian dilakukan oleh Eko Setiawan dan Joko Triyanto. Eko Setiawan berasal dari Prodi Sosiologi Fakultas Pertanian, Universitas Brawijaya. Sementara Joko Triyanto adalah Statistisi Muda di BPS Kabupaten Sragen. Penelitian mereka berjudul “Integrasi Kearifan Lokal Dan Konservasi Masyarakat Sekitar Desa Penyangga Taman Nasional Alas Purwo”.
Tujuan utama penelitian ini adalah untuk memberikan rekomendasi kebijakan pelestarian ekosistem hutan dan laut dengan tetap mempertimbangkan eksistensi masyarakat tradisional sekitar kawasan taman nasional.
Mitos Merak sebagai Penyelamat
Salah satu wujud nyata dari kearifan lokal ini adalah melalui pantangan atau larangan yang bertujuan langsung untuk konservasi, yaitu larangan mengambil dan membunuh burung merak.
Pantangan ini didasarkan pada kepercayaan masyarakat bahwa "burung merak merupakan binatang kesayangan para makhluk halus penungggu Taman Nasional Alas Purwo". Jika pantangan ini dilanggar, diyakini akan mendatangkan musibah atau dampak buruk lainnya.
Peneliti menyebutkan, "Sebenarnya dengan adanya pantangan tersebut mereka telah menerapkan nilai-nilai konservasi, secara tidak langsung sebagai upaya pengawetan keanekaragaman hayati". Hal ini menjadi lapisan pelindung budaya yang secara efektif menjaga keutuhan ekosistem Alas Purwo.
Pantangan dalam Sistem Payang
Kearifan lokal tidak hanya berlaku di daratan hutan, tetapi juga di perairan. Nelayan tradisional Kalipait menggunakan alat tangkap payang (pukat kantong untuk menangkap gerombolan ikan permukaan).
Meskipun payang digolongkan sebagai alat tradisional berproduktivitas tinggi, metode operasionalnya dinilai ramah lingkungan karena dioperasikan di kedalaman dangkal dan jauh dari dasar perairan, sehingga tidak merusak ekosistem laut.