Tabu Lokal Banten Lindungi Ular dan Biawak dari Perburuan Global
- https://commons.wikimedia.org/wiki/File:ZooParc_de_Beauval_Varanus_salvator_11082019_02_1017.jpg
Tradisi, VIVA Bali –Siapa sangka, sebuah kisah seram lokal justru menjadi garis pertahanan terkuat bagi satwa liar di tengah ancaman perdagangan global. Di Banten, Indonesia, jauh dari pengawasan ketat, sebuah pulau kecil bernama Tinjil menyimpan rahasia konservasi yang efektif. Rahasia itu bukanlah peraturan pemerintah yang dicetak tebal, melainkan sebuah tabu sosial kuno.
Sebuah penelitian menarik disusun oleh tim multidisiplin yang menggabungkan keahlian ekologi satwa liar dan dimensi sosial manusia. Penulis utama, Linda T. Uyeda, berfokus pada konservasi. Sementara itu, Aaron Wirsing mendalami ekologi dan konservasi predator besar.
Mereka didukung oleh peneliti Indonesia, Entang Iskandar, Azhari Purbatrapsila, dan Joko Pamungkas, yang memiliki keahlian di bidang survei populasi satwa liar, herpetofauna, primata, hingga virologi. Randall C. Kyes, dengan pengalaman lapangan yang luas, melengkapi penelitian ini dengan fokus pada antarmuka manusia dan lingkungan.
Tabu sebagai Benteng Tak Terlihat
Jurnal dengan judul “The role of traditional beliefs in conservation of herpetofauna in Banten, Indonesia,” secara gamblang menjelaskan peran institusi informal ini. Di Pulau Tinjil, yang dikelola oleh Pusat Penelitian Primata IPB dan dilarang diakses tanpa izin, larangan memanen satwa liar juga diperkuat oleh kepercayaan lokal.
Tabu ini secara khusus melindungi biawak air (Varanus salvator) dan ular sanca kembang (Python reticulatus), dua spesies yang secara global menjadi komoditas utama perdagangan kulit reptil. Indonesia sendiri merupakan pengekspor utama kulit kedua spesies ini ke pasar internasional. Namun, di Pulau Tinjil kedua spesies tersebut tidak boleh diambil.
Kisah yang Melegenda dan Menguatkan
Dari hasil wawancara, setidaknya dua versi cerita tabu yang konsisten dalam tema berhasil didokumentasikan. Dalam salah satu cerita, seorang nelayan nekat mengambil biawak air, membunuhnya, dan mengulitinya untuk dijual. Pada malam harinya, nelayan tersebut tiba-tiba kerasukan hingga menjadi gila. Ia akhirnya sembuh setelah seorang dukun menyuruhnya mengembalikannya.
Versi lain melibatkan seekor ular sanca kembang yang sangat besar. Setelah ditangkap dengan maksud dijual, roh ular itu merasuk dan berbicara, meminta untuk dilepaskan. Nelayan tersebut baru terbebas dari kutukan setelah mengembalikan ular itu ke pulau. Kisah-kisah ini, yang bahkan salah satunya dilaporkan terjadi baru sekitar 10 tahun lalu, telah beredar luas dan diyakini oleh para pekerja dan nelayan di pulau.