Teknologi Pertanian Tradisional Sunda Kuno di Kampung Cengkuk
- https://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/e/ed/COLLECTIE_TROPENMUSEUM_Soendanese_theepluksters_TMnr_10011963.jpg
Tradisi, VIVA Bali –Kampung Cengkuk di Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, hadir sebagai representasi nyata dari pelestarian budaya agraris Indonesia. Di tengah laju modernisasi, masyarakat adat penganut ajaran Sunda Wiwitan di sana tetap teguh memegang tradisi leluhur dalam bertani.
Kajian mendalam oleh Tesalonika Kristianti, I Wayan Srijaya, dan Coleta Palupi Titasari dari Universitas Udayana mengungkap dinamika menarik ini melalui lensa etnoarkeologi. Penelitian ini berfokus pada peralatan tani yang masih digunakan, yang akarnya tertuang dalam naskah kuno.
Warisan Naskah Kuno dan Pikukuh Leluhur
Penelitian ini menggunakan naskah Sanghyang Siksa Kanda ng Karesian sebagai dasar utama, yang berfokus pada bagian yang memuat keterangan mengenai peralatan tani masa lampau. Naskah ini, diperkirakan ditulis saat pemerintahan Sri Baduga Maharaja (1482–1521 M), menjelaskan secara spesifik lima jenis perkakas sebagai "senjata orang tani".
Keberlanjutan penggunaan alat-alat ini oleh masyarakat Cengkuk merupakan wujud nyata dari ketaatan mereka terhadap pikukuh (aturan) leluhur dan penghormatan mendalam terhadap padi. Mereka sangat menghormati padi yang divisualisasikan sebagai Dewi Sri atau Nyi Sri Pohaci, sehingga tata cara bertani pun disesuaikan dengan keyakinan sakral ini.
Adapun hasilnya, analisis menunjukkan bahwa meskipun alat-alat dari naskah kuno masih digunakan, terdapat beberapa perubahan yang terjadi pada alat pertanian tradisional di Kampung Cengkuk, baik dari fungsi dan bentuk.
Dinamika Lima Alat Tani Kuno
Lima alat tani yang disebutkan dalam naskah adalah kujang, baliung, patik, kored, dan sadap. Masyarakat Kampung Cengkuk telah melakukan penyesuaian pada sebagian besar alat-alat ini guna meningkatkan efisiensi dan menyesuaikan dengan keyakinan adat yang berkembang.
Pertama, Kujang. Alat ini pada masa Sunda Kuno berfungsi ganda sebagai pamangkas, perlindungan diri. Sedangkan di Cengkuk fungsinya beralih menjadi sepenuhnya sakral. Kujang saat ini tidak lagi digunakan untuk mengerjakan lahan pertanian, melainkan hanya menjadi media upacara permohonan izin (narawas) untuk membuka lahan (ngabukbak).
Kedua, Baliung. Alat ini berfungsi sebagai alat perimbas (cangkul) dan pemotong perdu untuk membersihkan lahan huma pada masa Sunda Kuno. Perubahan yang terjadi adalah pada fungsinya yang menjadi lebih beragam. Baliung modern berbahan besi, lebih besar, dan fungsinya bertambah sebagai perkakas pembuat perlengkapan dapur seperti dulang (tempat nasi).