Irigasi Majapahit, Jejak Kemakmuran, dan Inspirasi Pertanian

Harmoni sawah masa Majapahit
Sumber :
  • https://cdn.digitaldesa.com/uploads/profil/35.16.03.2003/berita/11c46120df847f967b918151ebc0de1b.jpeg

Budaya, VIVA Bali –Pernah bertanya-tanya, apa rahasia Kerajaan Majapahit yang berkuasa selama 200 tahun bisa begitu makmur? Salah satu jawabannya ternyata ada di sawah! Jurnal berjudul "Sistem Pertanian Majapahit dan Sumbangannya pada Kemakmuran Negara" jadi buktinya.

img_title Subak, Warisan Budaya Dunia UNESCO dari Filosofi Tri Hita Karana Bali

Ditulis oleh tim peneliti dari Departemen Arkeologi UGM, dengan Raihana Ayu Maharani sebagai penulis koresponden. Latar belakang keilmuan mereka di bidang arkeologi memberikan perspektif yang kuat dalam mengkaji sistem irigasi kuno Majapahit melalui data prasasti dan temuan artefak di Trowulan.

Puncak Evolusi Pertanian Jawa Kuno

img_title Sistem Pantun dalam Irama Batanghari Sembilan

Kerajaan Majapahit (1293-1520) dikenal sebagai negara agraris besar yang pengaruhnya meluas di Nusantara, dengan pertanian sebagai pilar utama kehidupan. Sistem pertanian Majapahit dianggap sebagai puncak evolusi budaya tertinggi pada masa Jawa Kuno

Ditandai dengan sistem irigasi yang maju dan kompleks, menjadikannya sistem pertanian modern pertama di Indonesia. Kemajuan ini terlihat jelas dari adanya pembagian kerja, seperti petugas pengatur irigasi, yang disebutkan dalam Prasasti Jiwu dan Prasasti Trailokyapuri (1486 M).

img_title Sistem Budaya dalam Wayang Palembang

Pemerintah Majapahit juga menunjukkan komitmennya terhadap infrastruktur air, seperti yang disebutkan pada Prasasti Kandangan (1350 M), menekankan pembangunan saluran irigasi. Kondisi geografis yang mendukung ini menyebabkan pertanian berkembang pesat.

Bukti-Bukti Sistem Irigasi Unggul

Kemajuan sistem irigasi Majapahit dibuktikan dengan adanya berbagai peninggalan arkeologis artefaktual dan non artefaktual yang menjadi subjek penelitian. Salah satu bukti artefaktual yang menunjukkan teknologi maju adalah temuan pipa saluran air berbahan terakota di dekat Candi Tikus.

Selain itu, terdapat jaringan kanal yang luas, yang menurut interpretasi foto udara oleh Bakosurtanal, merupakan komponen penting yang mendukung tata air perkotaan Majapahit sekitar abad XIV M. Jaringan kanal ini terhubung dengan berbagai waduk tua seperti Waduk Kumitir dan Waduk Keraton. Ada pula kolam buatan seperti Kolam Segaran dan Balong Bunder.

Sistem irigasi yang diterapkan Majapahit di Trowulan adalah sistem terpadu yang mengadopsi sistem irigasi bawah tanah. Sistem irigasi bawah tanah Majapahit ini dibuktikan dengan ditemukannya parit bawah tanah yang dibuat menggunakan batu bata merah, terkubur di kedalaman 40 sentimeter, dan berfungsi menghubungkan kolam pada Candi Tikus dan Kolam Segaran.

Halaman Selanjutnya
img_title