Omed-Omedan, Tradisi Ciuman Massal yang Unik Banget di Bali
- https://www.djkn.kemenkeu.go.id/files/images/2023/03/WhatsApp_Image_2023-03-28_at_08_12_14.jpeg
Budaya, VIVA Bali – Bali punya sejuta tradisi unik, tapi sedikit yang se-ramai dan selekat Omed-Omedan. Tradisi ini dilangsungkan sehari setelah Nyepi, tepatnya saat Ngembak Geni, di Banjar Kaja Sesetan, Denpasar Selatan. Ritual yang melibatkan pelukan, tarik-menarik, dan ciuman ringan antar pemuda-pemudi ini bukan sekadar hiburan melainkan simbol persaudaraan, penyucian, dan kebersamaan antar warga.
Menurut catatan sejarah, tradisi ini sudah ada sejak abad ke-17 di wilayah Puri Oka (Sesetan). Awalnya dikenal sebagai med-medan, yaitu permainan tarik menarik antara pemuda dan pemudi. Suatu ketika, Raja Puri Oka yang sedang sakit terganggu oleh keributan permainan itu. Anehnya, setelah keluar dan melihat aktivitas tersebut, ia sembuh. Sejak itu, med-medan dikukuhkan menjadi ritual tahunan setelah Nyepi.
Meski sempat dilarang karena dianggap tidak pantas, masyarakat Desa Sesetan memutuskan melanjutkannya setelah muncul kepercayaan bahwa dua babi yang bertarung saat tradisi ditiadakan merupakan pertanda buruk. Sejak itu, Omed-Omedan terus dilestarikan hingga kini, menjadi salah satu warisan budaya unik Pulau Dewata.
Ritual & Proses Omed-Omedan
- Doa Bersama & Persembahyangan
Ritual diawali dengan sembahyang di pura banjar, pemimpin adat memimpin upacara doa agar acara berjalan lancar dan penuh berkah. - Pembagian Kelompok Teruna & Teruni
Pemuda lajang (teruna) dan pemudi lajang (teruni) berusia sekitar 17–30 tahun dibagi menjadi dua kelompok. Mereka berdiri berhadap-hadapan di jalan desa. - Tarik, Peluk & Cium
Pihak laki-laki dan perempuan saling mendekat, menarik satu sama lain, berpelukan (gelut), dan kadang terjadi cium ringan di kening, pipi, atau bibir dalam momen spontan. Jika peserta sulit dilepas, panitia akan menyiramkan air sebagai sinyal menghentikan aksi. - Barong Bangkung & Simbolisme
Sebelum ritual inti, disuguhkan tarian Barong Bangkung sebagai pengingat legenda adu babi yang menjadi latar belakang tradisi Omed-Omedan. - Tutup dengan Hidangan & Silaturahmi
Setelah ritual selesai, warga dan peserta makan bersama, saling maaf-maafan, dan mempererat hubungan antar warga.
Selain itu, Omed-Omedan juga dipercaya membawa berkah dan keselamatan bagi desa. Air yang digunakan untuk menyiram peserta dianggap sebagai air penyucian yang dapat menolak bala. Lebih jauh, tradisi ini juga menjadi sarana sosial bagi para muda-mudi untuk saling mengenal. Tak jarang, banyak kisah cinta yang berawal dari tradisi ini, menjadikannya bukan hanya ritual budaya, tapi juga wadah kebersamaan yang hangat.