Tradisi Nugal Dayak, Teknik Bertani Tradisional yang Menjadi Cermin Ketahanan Pangan Lokal

Festival Nugal
Sumber :
  • https://www.instagram.com/p/DPu9zmkiV4i/?img_index=3&igsh=dzJ4aHhtbGRmMjk5

Tradisi, VIVA Bali –Indonesia dikenal sebagai negeri yang kaya akan budaya dan tradisi agraris. Sekian banyak kearifan lokal yang masih bertahan hingga kini, Tradisi Nugal Dayak menjadi salah satu warisan penting yang menggambarkan eratnya hubungan antara manusia, alam, dan kebersamaan sosial. Tradisi ini hidup di berbagai daerah seperti Kalimantan, Sumatera Selatan .Pali dan Musi Banyuasin hingga pedalaman Dayak Kenyah di Desa Long Uli. Meski zaman terus berubah, Nugal tetap menjadi simbol kerja sama, rasa syukur, dan penghormatan terhadap bumi yang memberi kehidupan.

img_title Menari di Atas Api, Menyingkap Magis dan Filosofi Tari Kecak Bali

 

Makna Tradisi Nugal

img_title Mengapa Jenazah di Desa Trunyan Tidak Dikubur? Mengungkap Tradisi Unik Bali Aga

Bagi masyarakat suku Dayak dan petani tradisional di sejumlah daerah, Nugal bukan sekadar menanam padi, melainkan bentuk doa dan pengharapan untuk hasil panen yang melimpah. Tradisi ini juga sarat nilai-nilai sosial, mulai dari gotong royong, solidaritas, hingga kemandirian pangan. Semua dilakukan bersama, tanpa pamrih, karena mereka percaya kerja yang dilakukan dengan kebersamaan akan membawa berkah dan memperkuat hubungan antarwarga.

Lebih dari itu, Nugal juga menjadi simbol penghormatan terhadap alam. Masyarakat percaya bahwa padi memiliki “roh kehidupan” yang harus diperlakukan dengan penuh hormat. Oleh karena itu, sebelum menanam, sering kali dilakukan ritual adat dan doa bersama. Di beberapa daerah seperti Sanggau, para perempuan yang menebar benih bahkan berdandan indah sebagai simbol penghormatan terhadap padi, seolah sedang menyambut tamu agung yang akan memberi kehidupan.

img_title Sistem Taat Adat dalam Hukum Adat Dayak Maanyan

 

Proses Pelaksanaan Nugal

Tradisi Nugal dimulai dari pembukaan lahan. Warga bersama-sama menebas semak dan membakar sisa tanaman. Abu hasil pembakaran berfungsi sebagai pupuk alami yang menyuburkan tanah. Setelah itu, lahan dibiarkan selama 10–15 hari agar tanah menyatu dengan abu dan siap ditanami.

Tahap berikutnya adalah proses menugal, yaitu menanam benih dengan sistem ladang kering atau gogo rancah, tanpa irigasi dan hanya mengandalkan air hujan. Laki-laki memegang peran penting pada tahap ini. Mereka membawa tongkat kayu runcing untuk membuat lubang di tanah. Di belakang mereka, para perempuan berjalan sambil menabur 4–5 butir benih padi ke dalam setiap lubang.

Halaman Selanjutnya
img_title