Upacara Nyadar, Tradisi Syukur Petani Garam Madura yang Masih Dijaga
- https://www.instagram.com/p/B0sPpC7gLvD/?igsh=MW9ocjZ2ZzIyMmhiMA==
Tradisi, VIVA Bali –Sumenep tak hanya dikenal dengan garamnya yang mendunia, tetapi juga dengan tradisi luhur yang menyertainya. Antara hamparan tambak garam yang berkilau di bawah terik matahari, masyarakat Madura memiliki ritual sakral bernama Upacara Nyadar. Tradisi ini merupakan bentuk rasa syukur kepada Tuhan dan penghormatan kepada leluhur, khususnya Syekh Anggasuto tokoh yang diyakini sebagai guru pertama dalam pembuatan garam di Sumenep.
Upacara Nyadar bukan sekadar kegiatan adat, melainkan juga cerminan kearifan lokal masyarakat pesisir yang hidup berdampingan dengan alam dan spiritualitas. Tradisi ini menjadi bukti bahwa budaya dan keyakinan dapat berpadu harmonis tanpa kehilangan nilai-nilai luhur yang diwariskan turun-temurun.
Masyarakat setempat percaya, Upacara Nyadar telah dilakukan sejak masa Hindu-Buddha sebelum berkembangnya Islam di Madura. Tradisi ini kemudian diselaraskan dengan nilai-nilai Islam tanpa menghilangkan makna aslinya sebagai bentuk syukur atas hasil garam yang melimpah. Tokoh sentral dalam tradisi ini adalah Syekh Anggasuto, seorang pendakwah yang dipercaya mengajarkan cara membuat garam kepada masyarakat Sumenep. Beliau dimakamkan di Desa Kebundadap, Kecamatan Saronggi, Sumenep tempat yang kini menjadi pusat pelaksanaan ritual Nyadar.
Upacara Nyadar memiliki makna ganda sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur dan permohonan berkah serta keselamatan dalam kehidupan sehari-hari. Tradisi ini juga mengandung nilai sosial yang kuat karena melibatkan seluruh warga tanpa memandang status sosial.
Upacara Nyadar dilaksanakan tiga kali dalam setahun, biasanya mengikuti penanggalan Madura yang ditentukan berdasarkan peredaran bulan. Setiap tahapan memiliki simbol dan tujuan spiritual yang berbeda:
1. Nyadar Pertama
Dilaksanakan di makam para leluhur di Desa Kebundadap Barat. Masyarakat berkumpul untuk berdoa, berziarah, dan mengirimkan doa sebagai bentuk penghormatan.
2. Nyadar Kedua
Prosesi ini hampir sama dengan yang pertama, yaitu ziarah dan doa bersama. Tujuannya memperkuat hubungan spiritual antara manusia dan leluhur.
3. Nyadar Ketiga (Nyadar Bengko)
Inilah puncak dari seluruh rangkaian acara. Berlangsung di Desa Pinggirpapas, tempat pertama kali garam dibuat. Pada malam hari diadakan pembacaan naskah kuno atau Macapat, seperti kisah Jatiswara dan Sampurnaning Sembah, menggunakan bahasa Jawa kuno di atas daun lontar. Ritual ini dikenal juga dengan nama Nyadar Bengko dan memiliki nilai religius yang mendalam.