Tradisi Jamasan Pusaka Keraton Yogyakarta Menjadi Ritual Sakral Pembersihan Warisan Leluhur
- https://www.pexels.com/id-id/foto/orang-mengenakan-pakaian-tradisional-2912492/
Budaya, VIVA Bali – Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat hingga kini masih menjaga tradisi turun-temurun yang sarat makna spiritual, yakni Jamasan Pusaka. Ritual ini digelar rutin sekali dalam setahun, tepatnya pada bulan Sura dalam kalender Jawa, yang bertepatan dengan Muharram dalam kalender Hijriah. Waktu pelaksanaan jatuh pada Selasa Kliwon, dan bila hari itu tidak ada dalam bulan Sura, diganti dengan Jumat Kliwon.
Upacara jamasan bukanlah sekadar kegiatan membersihkan benda pusaka. Lebih dari itu, ia menjadi simbol penyucian, penghormatan leluhur, dan permohonan restu dalam memasuki tahun baru Jawa. “Jamasan Pusaka adalah prosesi membersihkan dan merawat benda pusaka sekaligus memaknai tahun baru Jawa sebagai momentum penyucian diri,” tertulis dalam laman resmi Keraton Yogyakarta.
Tradisi jamasan berlangsung dengan penuh tata aturan. Upacara diawali dengan Sugengan Ageng, doa khusus yang dipimpin oleh abdi dalem. Setelah itu, pusaka dikeluarkan dari tempat penyimpanannya. Jenis pusaka yang dijamas beragam, mulai dari keris, tombak, payung kebesaran, manuskrip kuno, hingga kereta pusaka.
Untuk pusaka berbahan logam, seperti keris dan tombak, proses pencucian dilakukan menggunakan air perasan jeruk nipis yang dicampur dengan warangan (bahan arsenik alami). Campuran ini dipercaya dapat menghilangkan karat sekaligus melindungi bilah logam. Setelah itu, bilah dilap dengan minyak khusus agar tetap terawat.
Kereta pusaka juga tak luput dari prosesi jamasan. Salah satunya adalah Kanjeng Nyai Jimat, kereta paling tua dan sakral milik Keraton. Selain itu, dua pohon beringin kembar di Alun-Alun Utara, yakni Kiai Dewadaru dan Kiai Jayadaru, juga ikut dibersihkan dalam rangkaian jamasan. “Prosesi siraman rutin ini bertujuan untuk menghormati sekaligus merawat pusaka agar tetap awet,” jelas Keraton Yogyakarta dalam publikasi resminya.
Bagi masyarakat Jawa, pusaka bukan hanya benda mati. Ia dianggap memiliki ruh yang melekat dari leluhur maupun sejarah panjang perjalanan kerajaan. Dengan menjamas pusaka, Keraton Yogyakarta berupaya menjaga kesinambungan nilai, spiritualitas, dan kebesaran budaya.
Dinas Kebudayaan Kota Yogyakarta menyebutkan, jamasan memiliki makna mendalam sebagai wujud penghormatan terhadap leluhur sekaligus pengingat untuk menyucikan diri. “Tradisi ini tidak hanya menjaga kelestarian benda pusaka, tetapi juga menjadi sarana spiritual bagi masyarakat Jawa untuk membersihkan batin menjelang tahun baru,” tertulis dalam laman resmi Kebudayaan Kota Yogyakarta【kebudayaan.jogjakota.go.id】.