Pesona Desa Adat Penglipuran! Warisan Budaya Bali Dinobatkan Desa Terbersih di Dunia
- https://indonesia.go.id/galeri/foto/185
Budaya, VIVA Bali – Bali tidak hanya terkenal dengan pantai dan budayanya yang memikat dunia. Di Kabupaten Bangli, terdapat sebuah desa adat bernama Penglipuran yang dinobatkan sebagai salah satu desa terbersih di dunia. Desa ini tidak hanya menyajikan panorama indah dan lingkungan yang asri, tetapi juga menyimpan sejarah panjang serta nilai-nilai luhur yang terus dijaga hingga kini.
Sejarah Desa Penglipuran
Desa Penglipuran berdiri sekitar 700 tahun lalu pada masa Kerajaan Bangli. Leluhur masyarakat desa ini berasal dari Desa Bayung Gede, yang dikenal ahli dalam agama, adat, dan pertahanan.
Pada masa itu, masyarakat Bayung Gede dipanggil oleh Kerajaan Bangli untuk membantu urusan kerajaan. Karena jarak yang cukup jauh, mereka diberi tempat beristirahat bernama Kubu Bayung. Lama-kelamaan, tempat ini berkembang menjadi Desa Penglipuran.
Nama Penglipuran sendiri berasal dari kata eling (mengingat) dan pura (tempat leluhur), yang bermakna “mengingat tanah leluhur”. Pada 1995, Kementerian Pariwisata menetapkan desa ini sebagai desa wisata percontohan di Indonesia.
Desa Wisata Ramah Budaya
Desa Penglipuran bukan sekadar destinasi wisata, melainkan juga desa adat yang mandiri dalam penguatan ekonomi lokal. Warga desa memanfaatkan budaya, tradisi, dan kerukunan sosial sebagai modal untuk mengembangkan pariwisata berkelanjutan.
Selain menjelajahi keindahan desa, wisatawan dapat menyewa pakaian adat Bali dengan biaya sekitar Rp50.000 untuk dewasa maupun anak-anak, lengkap dengan kesempatan berfoto di latar perkampungan adat.
Harga Tiket Masuk Desa Penglipuran
Bagi wisatawan yang ingin berkunjung, tiket Desa Penglipuran cukup terjangkau:
Dewasa: Rp20.000
Anak-anak: Rp15.000
Dengan harga yang ramah di kantong, pengunjung dapat menikmati suasana desa adat yang asri, bersih, dan sarat nilai budaya.
Filosofi Hidup
Masyarakat Penglipuran hidup dengan prinsip Tri Hita Karana, yaitu keseimbangan antara manusia, alam, dan Tuhan. Konsep ini terlihat dalam tata ruang desa, arsitektur bangunan, serta keharmonisan warga dalam menjaga lingkungan.
Setiap rumah diatur rapi dengan arsitektur tradisional khas Bali. Jalan desa tertata bersih, tanpa ada sampah berserakan, menjadikan desa ini simbol kearifan lokal yang patut dicontoh.