Mekotek, Aksi Nekat Berdiri di Atas Tumpukan Tongkat Demi Tolak Bala

Tradisi Mekotek di Munggu
Sumber :
  • https://sita.badungkab.go.id/acara/sejarah-dan-makna-tradisi-mekotek-di-desa-munggu-bali

Adat, VIVA Bali –Setiap 6 bulan sekali bertepatan dengan Hari Raya Kuningan, Desa Adat Munggu, Kecamatan Mengwi, Kabupaten Badung, Bali, selalu dipadati ribuan warga yang menggelar tradisi unik bernama Mekotek. Mengutip informasi dari bali.antaranews.com, tradisi ini melibatkan ratusan pemuda yang membawa tongkat kayu panjang, kemudian menyatukannya membentuk formasi menyerupai piramida di setiap persimpangan jalan desa. Keunikan tradisi ini bahkan berhasil menarik perhatian wisatawan dari berbagai negara yang penasaran dengan kemeriahannya.

img_title Sistem Bahasa Lintang dari Sumatera Bagian Selatan

Berawal Dari Kemenangan Perang Kerajaan Mengwi

Merujuk pada laman resmi Pemerintah Kabupaten Badung, tradisi Mekotek dipercaya sudah ada sejak era Kerajaan Mengwi pada abad ke-18. Awalnya, ritual ini digelar untuk menyambut pulangnya pasukan Kerajaan Mengwi yang meraih kemenangan usai berperang di Blambangan, menggunakan tombak besi sebagai senjata dalam perayaannya.

img_title Sistem Bahasa Jawa dalam Misa Inkulturasi Bahasa Jawa Kota Semarang

Seiring berjalannya waktu, penggunaan tombak besi yang kerap menimbulkan luka pada peserta akhirnya digantikan dengan tongkat kayu pulet sepanjang 2 hingga 3,5 meter pada masa penjajahan Belanda demi alasan keselamatan. Disebutkan dalam laman yang sama, nama Mekotek sendiri berasal dari bunyi “tek-tek-tek” yang muncul akibat benturan antar tongkat kayu para peserta.

Prosesi Menyusun Tongkat Membentuk Piramida

img_title Sistem Adat Negeri Haruku dalam Tradisi Sasi Lompa

Rangkaian tradisi Mekotek diawali dengan persembahyangan bersama di Pura Puseh atau Pura Dalem Desa Munggu. Sebagaimana diberitakan bali.antaranews.com, usai berdoa, para pemuda kemudian berkeliling desa sambil membawa tongkat kayu, lalu menyatukannya membentuk formasi menyerupai piramida di setiap persimpangan jalan.

Setelah tongkat-tongkat tersusun rapi, salah satu pemuda akan memanjat ke puncak susunan tersebut sebagai simbol keberanian, sementara peserta lain di bawahnya terus menggoyangkan tongkat hingga menimbulkan suara benturan yang khas. Menurut penjelasan yang termuat di sita.badungkab.go.id, seluruh peserta diwajibkan mengenakan busana adat berupa kancut dan udeng batik selama prosesi berlangsung.

Makna Tolak Bala dan Ritual Wajib

Bagi masyarakat Munggu, Mekotek bukan sekadar atraksi budaya, melainkan ritual wajib yang diyakini mampu menolak bala serta mengusir roh jahat yang dipercaya bersemayam di persimpangan jalan desa. Berdasarkan laman bali.antaranews.com, Bendesa Adat Munggu, I Made Rai Sujana, menjelaskan tradisi ini rutin digelar setiap Hari Raya Kuningan sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur.

Halaman Selanjutnya
img_title