Khombow, Kanvas Jiwa Orang Sentani

Artistik eksentrik dari Khombow
Sumber :
  • https://cdn.kibrispdr.org/data/580/gambar-ukiran-kayu-dari-papua-38.jpg

Budaya, VIVA Bali – Di tepi Danau Sentani yang berkilau di bawah sinar matahari Papua, ada sebuah kampung bernama Asei. Dari kejauhan, rumah-rumah panggung tampak sederhana, namun di dalamnya tersimpan kekayaan budaya yang luar biasa, Khombow namanya. Seni lukis di atas kulit kayu yang telah diwariskan turun-temurun.

Bagi masyarakat Sentani, Khombow bukan sekadar karya estetika. Ia adalah cerita yang diukir di antara serat-serat kayu, lambang kepercayaan, pengetahuan, dan status sosial. Dalam tradisi lama, lembaran kulit kayu yang dilukis ini dikenal sebagai Malo, sejenis pakaian adat yang dikenakan oleh perempuan yang telah menikah. Setiap goresan di atasnya mengandung simbol dan doa, menandai peralihan perempuan dari gadis ke ibu rumah tangga yang dihormati.

Dari Pohon ke Pakaian Sakral

Proses pembuatan Khombow dimulai dari alam. Kulit kayu diambil dari pohon khombow (nama lokal), lalu dipukul-pukul hingga seratnya pipih dan lentur. Kulit ini kemudian dijemur di bawah matahari, sebelum akhirnya menjadi “kanvas” alami berwarna cokelat keemasan.

Menurut penelitian Kondologit dan Puhili di satu dekade lalu, teknik pewarnaan tradisional memanfaatkan bahan-bahan alami dari hutan sekitar. Misalnya, arang untuk warna hitam, tanah merah untuk warna bata, dan getah tumbuhan tertentu untuk pengikat. Tidak ada sketsa modern, para seniman Sentani melukis langsung dari ingatan dan perasaan. Setiap motif adalah hasil dialog batin dengan leluhur.

Simbol dalam Setiap Motif

Motif-motif dalam Khombow memiliki makna filosofis mendalam. Ada motif cicak yang melambangkan kesuburan dan kelangsungan hidup, motif ular yang menggambarkan kekuatan penjaga, dan spiral yang menandakan perjalanan kehidupan manusia.

Motif-motif itu bukan sekadar hiasan indah, melainkan bagian dari sistem pengetahuan lokal. Dalam masyarakat adat, hanya orang tertentu yang berhak memakai atau melukis motif tertentu. Dua yang utama antara lain Ondofolo (pemimpin adat) atau keturunannya. Artinya, seni ini juga berfungsi sebagai penanda identitas dan hierarki sosial. “Setiap Khombow adalah identitas keluarga dan suara leluhur,” tulis Kondologit dan Puhili dalam jurnalnya. “Ia bukan sekadar karya seni, tetapi media komunikasi antara manusia dan dunia roh.”